Kamis, 03 Maret 2011

Kayu solid

Kayu solid adalah istilah yang paling sering digunakan untuk membedakan antara kayu biasa dan kayu buatan, tetapi juga mengacu pada struktur yang tidak memiliki ruang berongga. Pembuatan produk kayu diproduksi oleh mengikat bersama-sama alur kayu, serat, atau veneer dengan perekat untuk membentuk suatu material komposit. Kayu dirancang termasuk kayu lapis, papan oriented strand (OSB) dan papan serat. Fakta bahwa produk yang dibuat dari kayu solid seringkali disebut-sebut dalam iklan. Namun, dengan menggunakan kayu solid memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kayu solid hanya terdiri dari bahan dasar kayu tanpa dicampur atau di kombinasi dengan bentuk bahan lain. Walaupun pada pengerjaannya kita menggunakan sambungan laminasi, finger joint atau konstruksi yang lain untuk papan atas meja misalnya, bahan tersebut masih disebut sebagai kayu solid.

Setelah keluar dari kiln dry kayu gergajian bisa diproses langsung menjadi kaki meja, papan atas meja (dilaminasi) atau papan samping laci tanpa melalui proses lebih rumit. Kayu yang digunakan langsung tersebut kita tetap menganggap sebagai kayu solid. Atau ketika anda membuat kaki belakang sebuah kursi yang melengkung yang dibelah dari selembar papan dan digergaji sesuai dengan lengkungan kaki kursi, bahan tersebut tetap disebut kayu solid.[1]

Mesin Pengurai Serat Tandan Kosong Sawit


Mesin Pengurai Tandan Kosong Sawit, Kapasitas 500 kg/Jam

SERIBU MANFAAT SERAT SAWIT
Sofa di ruangan berukuran 3 m x 5 m itu masih membal. Padahal, umurnya sudah 2 tahun. ‘Isi joknya tidak sembarangan,’ kata Dr Siswanto, yang menempatkan sofa itu di ruang tamu kantornya, Pusat Penelitian Bioteknologi Perkebunan Bogor. Isi jok sofa itu berasal dari serat tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang diurai halus.

Dengan isi jok asal limbah pengolahan kelapa sawit, masa pakai sofa lebih lama. Selain itu, serat tandan kelapa sawit lebih lentur sehingga sofa terasa lebih empuk. Serat diambil dari TKKS yang diurai dengan pencacah serat. Serat yang panjangnya 15 cm itu lalu disemprot dengan cairan karet alam hingga merata. Gunanya, membuat serat TKKS lebih menggembung dan tahan membal walau sering diduduki. Setelah dikeringkan, serat TKKS dimasukkan ke jok. Tak hanya sofa, tapi juga jok mobil.

Selain sebagai pengisi jok mobil, Ir Isroi MSi, periset Pusat Penelitian Bioteknologi Perkebunan Bogor juga mengujicoba pemanfaatan limbah kelapa sawit menjadi pulp, bahan baku kertas. Caranya, dengan mengurai serat menjadi bubuk. Ada 2 teknik yang bisa dipilih, menggunakan larutan asam kuat atau jasa bakteri pelapuk. Yang disebut terakhir memang murah dari segi biaya, tetapi waktu degradasi lebih lama. Degradasi serat menghasilkan lignin sebesar 21% kemudian dicetak seperti halnya bubur kayu sebelum menjadi kertas. ‘Pemanfaatan limbah sawit cukup untuk mensubstitusi kayu yang jumlahnya semakin langka,’ kata Isroi.

Menumpuk
Limbah kelapa sawit semakin melimpah seiring dengan banyaknya pabrik pengolahan kelapa sawit yang kini mencapai 470 pabrik. Sebuah pabrik kelapa sawit (PKS) berkapasitas 60 ton tandan/jam menghasilkan limbah 100 ton/hari. Itu artinya, total limbah 470 pabrik itu mencapai 28,7-juta ton dalam bentuk cair dan 15,2-juta ton limbah padat per tahun.

Limbah padat berupa tandan kosong dan lumpur. Keduanya menjadi penyebab bau busuk dan tempat bersarangnya lalat. Selama ini TKKS yang jumlahnya 23% dari tandan buah segar hanya dimanfaatkan sebagai mulsa atau kompos untuk tanaman kelapa sawit. Itu pun tidak terserap seluruhnya dan pemanfaatan itu hanya menghasilkan nilai tambah rendah terhadap TKKS.

Padahal, TKKS banyak manfaatnya. Salah satu di antaranya diolah menjadi media sumber pakan ternak. Caranya, limbah kelapa sawit dibasahi air, kemudian disimpan di dalam kaleng besar dan dibiarkan terbuka 3-4 hari. Serangga buah bakal datang ke dalam kaleng dan bertelur. Selang 2-3 pekan telur serangga berubah menjadi belatung alias magot. Jika magot dikeringkan dan digiling menghasilkan tepung. Tepung magot menjadi pengganti tepung ikan sebagai bahan baku pembuatan pakan. Kadar protein yang terkandung dalam tepung magot itu mencapai 40%.

Papan partikel
Pemanfaatan TKKS paling potensial adalah untuk pembuatan papan partikel. Sebab, tandan kelapa sawit memiliki kadar selulosa tinggi, yaitu 67,88% holoselulosa dan 38,76% alfa selulosa dengan kadar serat 72,67%. Ia memiliki kelebihan dibandingkan papan lapis, yakni mampu meredam suara. Cara pembuatan papan partikel dari TKKS sangat mudah. Gunakan mesin perajang untuk memotong serat sawit menjadi kecil-kecil.

Rajangan tandan kelapa sawit yang keluar dari mesin itu masih mengandung kadar air 73%, minyak 9%, dan kotoran sehingga perlu dipres. Setelah rajangan dipres menggunakan mesin kempa tipe ulir, kadar air dan kadar minyak berkurang menjadi 36% dan 7%. Proses belum berakhir karena TKKS perlu dijemur untuk menurunkan kadar air hingga 10%.

Dalam pembuatan papan dibutuhkan perekat, seperti 8% lateks, 10% lem kanji, atau 12% polivinil akrilik. Cara pemberian perekat dengan penyemprotan. Partikel serat tandan kelapa sawit yang telah diberi perekat dibuat lembaran papan dengan ukuran 20 cm x 20 cm dan dikempa dingin dengan kekuatan 20 kg/cm2 selama 15 menit. Kemudian dikempa panas 103oC selama 15 menit dengan tekanan kempa 90 kg/cm2. Selanjutnya papan didiamkan 24 jam dalam ruangan pada suhu kamar.

Hasilnya, papan partikel yang dihasilkan memiliki kadar air 8,0-8,8%. Nilai itu masih berada dalam kisaran standar nasional Indonesia (SNI) papan partikel yang mensyaratkan kadar air maksimal 14%. Dari segi kerapatan, papan partikel TKKS termasuk berkerapatan tinggi antara 0,86-0,98 g/cm3. Bandingkan dengan papan partikel asal batang kelapa sawit, 0,59-0,66 g/cm3.

Hasil pengujian sifat mekanik papan partikel seperti keteguhan lentur, keteguhan patah, keteguhan rekat, dan kuat pegang sekrup menunjukkan TKKS lebih baik. Misalnya, keteguhan papan partikel tandan kelapa sawit atau kekuatan untuk menahan beban sehingga dapat kembali ke bentuk semula tanpa rusak mencapai 111-200,49 kg/cm2. Nilai itu lebih tinggi daripada SNI papan partikel yang mewajibkan nilai kelenturan di atas 100 kg/cm2. Elastisitas papan partikel 1.809,66-4.131,17kg/cm2, di atas nilai SNI minimal yang hanya 100 kg/cm2.

Keteguhan rekat alias kemampuan ikatan antarpartikel tandan kelapa sawit berkisar 6,20-8,10 kg/cm2; standar SNI 6 kg/cm2. Kuat pegang sekrup alias kemampuan papan untuk manahan sekrup sebagai pengikat sebesar 49,00 kg. Itu lebih tinggi 9 kg dibandingkan SNI yang mencapai 40 kg.

Menurut Dr Siswanto setiap 1 m2 papan partikel hanya butuh 3-5 kg tandan kosong kelapa sawit. Sedangkan jika dari batang kayu kelapa sawit, paling tidak menghasilkan 0,3 m2 papan partikel. Jika dalam 1 ha kebun sawit menghasilkan 70 ton kayu kelapa sawit kering, berarti bisa diperoleh 35 m3 papan partikel dengan kerapatan 0,6 kg/dm3.

Dengan memanfaatkan limbah kelapa sawit, nilai tambah untuk pabrik pengolahan kelapa sawit bakal meningkat. Selain itu, limbah tak lagi menjadi masalah yang mencemari lingkungan. (Vina Fitriani/Peliput: Faiz Yajri)

(Sumber : BGI)
http://bgimesin.blogspot.com/2010/12/mesin-pengurai-serat-tandan-kosong.html

Papan Partikel Dari Limbah Sebuk Kelapa



Limbah serbuk sabut kelapa merupakan bahan yang mengandung lignoselulosa yang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif bahan baku pembuatan papan partikel. Optimasi proses pembuatan papan partikel sangat dipengaruhi kadar perekat dan kerapatan terhadap sifat fisis dan mekanis. Proses pembuatan panel papan partikel berbahan baku serbuk sabut kelapa ini berkadar air kurang dari 5% dengan menggunakan perekat urea formaldehida

Informasi Detail

Kegunaan• Dapat digunakan sebagai bahan penyerap cairan • Sebagai pengisi pada partisi atau dinding penyekat • Pengganti papan busa (styrofoam) untuk kotak pembungkus bagian dalam bahan-bahan yang tidak tahan banting seperti elektronik, barang gelas, dll
Keunggulan• Mempunyai daya serap air dan oli yang sangat tinggi • Nilai pengembangan tebalnya juga menunjukkan hasil yang baik dan memenuhi standar JIS A-5908 1983 (Japanese Industrial Standart) • Merupakan bahan yang ramah lingkungan karena kemungkinan besar dapat terdekomposisi secara alami dan dapat menjadi kompos, serta ‘polypot’ untuk tanaman
PenelitiDr. Ir. Bambang Subiyanto
Satuan KerjaP2 Biomaterial
SkalaSkala uji lapangan
Jenis AplikasiRiset Pengembangan, Riset Terapan
Jenis HKIPaten
Status HKITerdaftar

Pohon sengon merupakan pohon yang serba guna. Dari mulai daun hingga perakarannya dapat dimanfaatkan untuk beragam keperluan.

Pohon sengon merupakan pohon yang serba guna. Dari mulai daun hingga perakarannya dapat dimanfaatkan untuk beragam keperluan.

  1. DaunDaun Sengon, sebagaimana famili Mimosaceae lainnya merupakan pakan ternak yang sangat baik dan mengandung protein tinggi. Jenis ternak seperti sapi, kerbau, dfan kambingmenyukai daun sengon tersebut.
  2. PerakaranSistem perakaran sengon banyak mengandung nodul akar sebagai hasil simbiosis dengan bakteri Rhizobium. Hal ini menguntungkan bagi akar dan sekitarnya. Keberadaan nodul akar dapat membantu porositas tanah dan openyediaan unsur nitrogen dalam tanah. Dengan demikian pohon sengon dapat membuat tanah disekitarnya menjadi lebih subur. Selanjutnya tanah ini dapat ditanami dengan tanaman palawija sehingga mampu meningkatkan pendapatan petani penggarapnya.
  3. Kayu

    Bagian yang memberikan manfaat yang paling besar dari pohon sengon adalah batang kayunya. Dengan harga yang cukup menggiurkan saat ini sengon banyak diusahakan untuk berbagai keperluan dalam bentuk kayu olahan berupa papan papan dengan ukuran tertentu sebagai bahan baku pembuat peti, papan penyekat, pengecoran semen dalam kontruksi, industri korek api, pensil, papan partikel, bahan baku industri pulp kertas dll.

Filed under: POHON SENGON by embundaun

Kayu Karet Untuk Industri: Terbuka Lebar

Kayu Karet Untuk Industri: Terbuka Lebar

Posted: February 1, 2011 by Sebuah Catatan Bulanan in Market Itu Pasar


Tahun ke tahun kebutuhan bahan baku kayu nasional semakin meningkat. Data Dirjen Perkebunan tahun 2010 menunjukkan, bahwa kebutuhan kayu nasional mencapai 43 juta m3. Tapi kebijakan soft landing Kementerian Kehutanan membatasinya, sehingga negeri ini di tahun 201 0 hanya diberi jatah tebangan sebesar 9,1 juta m3. Deforestasi hutan alam yang semakin tinggi penyebab munculnya kebijakan ini. Jelas, terdapat marjin antara supply dan demand sebesar 33,9 juta m3. Semakin jelas pula, diperlukan alternatif pengganti kayu hutan untuk di ekspor.

Kementrian kehutanan merilis, laju deforestasi Indonesia dalam kurun waktu 2005 – 2010 mencapai 1,175 juta ha per tahun. “Kayu karet bisa menjawab gap itu. Apalagi dengan diluncurkan program Hutan Tanaman Industri (HTI). Sekarang, tanaman karet memiliki prospek yang baik,” kata Cicilia Nancy, Peneliti Sosial Ekonomi di Balai Penelitian Sembawa. Nancy menambahkan lagi bahwa sebagai tanaman perkebunan, nilai ekonomis tanaman karet tak hanya terletak pada kemampuannya menghasilkan lateks, tetapi juga kayunya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku perabot rumah tangga.

“Peningkatan permintaan kayu karet karena membaiknya perekonomian dunia, pertambahan penduduk, dan terbatasnya ketersediaan kayu hutan alam seperti kayu meranti putih, ramin, dan Agathis yang dilarang untuk di ekspor dalam bentuk kayu gergajian,” ungkap Nancy. Produk kayu yang berwarna khas putih kekuningan seperti kayu ramin ini banyak dikonsumsi negara-negara seperti Singapura, Jepang, China, Taiwan, dan Amerika Latin dalam bentuk furniture, papan partikel, parquet flooring, moulding, laminating, dan pulp. Perkembangan teknologi pengolahan kayu saat ini menjadikan pemanfaatan kayu karet sebagai bahan baku industri tidak lagi hanya terbatas untuk kayu pertukangan, tetapi kayu-kayu yang berukuran lebih kecilpun dapat diproses di pabrik Medium Density Fiber (MDF) menjadi bubur kayu untuk kemudian menghasilkan produk akhir dalam bentuk particle board, fibre board, pulp, dan kertas. Seluruh bagian kayu termasuk cabang dan ranting sudah dapat dimanfaatkan.

Kayu karet diharapkan dapat digunakan lebih luas sebagai substisusi kayu alam. Potensi kayu karet untuk diolah menjadi bahan baku industri cukup besar. Jika mengacu kepada statistik karet, diketahui bahwa luas perkebunan karet di Indonesia pada tahun 2009 seluas 3,4 juta hektar. Sebesar 85 persen atau 3 juta hektar adalah kebun karet rakyat. Dengan demikian perkebunan rakyat menjadi tumpuan pengembangan kayu karet. Potensi kayu karet diperkirakan lebih kurang 8,5 juta m3 per tahun, didasarkan atas luas areal perkebunan karet yang ada. Diasumsikan perkebunan karet setiap tahun meremajakan 5-10 persen dari arealnya. Harap diingat ada 400 ribu ha perkebunan rakyat dalam kondisi tua, rusak, dan tidak produktif, yang saat ini membutuhkan peremajaan. Persoalannya, belum ada sumber dana untuk meremajakannya.

Memenuhi standar.

Kayu karet yang diolah dibedakan atas bentuk gelondong (log) dan limbah, baik limbah penebangan maupun limbah pengolahan. Log kayu karet merupakan bagian dari batang yang berdiameter 20 cm ke atas. Nancy menguraikan pengolahan kayu karet gelondong hingga saat ini bertujuan menghasilkan kayu gergajian dan kayu lapis, sedangkan limbahnya menghasilkan papan partikel, papan serat atau pulp, atau arang.

Rendemen kayu gergajian menjadi produk gergajian kayu sekitar 50%, sudah termasuk penyusutan saat pengeringan. Umumnya kayu karet gergajian digunakan sebagai komponen mebel dan konstruksi bangunan. Produk peralatan kayu karet dapat dibuat secara knock down ataupun completed knock down dengan tujuan Eropa dan Amerika, misalnya untuk dining set, folding chair racking, lounge bed room, dan garden set. Kayu karet juga bisa digunakan untuk moulding (bentuk profil seperti pigura dan lisplank) dan berbagai alat rumah tangga dengan berbagai corak dan design, seperti dinding penyekat, jelusi jendela, dan parquet block (lantai).

Dalam keadaan dingin, kayu karet juga dapat dikupas menjadi venir. Tripleks dari kayu karet yang direkat dengan perekat urea formaldehyde (UF) dan dibubuhi ekstender 20% ternyata mempunyai sifat keteguhan rekat yang memenuhi persyaratan standar Indonesia, standar Jepang, dan standar Jerman. Berarti, sifat perekat kayu karet baik. Tidak semua jenis kayu dapat memenuhi syarat keteguhan rekat ketiga standar tersebut. Dari 26 jenis kayu yang pernah diteliti hanya 92% yang memenuhi standar Jepang, 58% memenuhi standar Jerman, dan 46% memenuhi standar Indonesia. Karena diameter kayu karet relatif kecil, relatif pendek, dan pengurangan diameter relatif besar, sehingga kurang sesuai untuk bahan kayu lapis berbentuk panel. Produk kayu lapis untuk rumah tangga digunakan untuk komponen pintu dan jendela, meja, tangga, dan kursi. Sedangkan untuk bahan bangunan berupa block dan pilar.

Dari papan partikel hingga serat.

Kayu karet juga digunakan untuk papan partikel. Penggunaan papan partikel dari kayu karet lebih sesuai untuk bahan mebel dibanding sebagai bahan bangunan. Untuk meningkatkan keawetan biasanya ditambahkan bahan pengawet 0,5% dari berat papan partikel. Saat ini, papan partikel yang digunakan sudah dilapisi dengan kertas beraneka corak untuk menambah keindahannya.

Kayu karetpun bisa sebagai bahan baku papan serat. Kayu karet diproses menjadi serpih dan diolah menjadi pulp melalui proses soda panas terbuka (disebut juga proses semi kimia soda panas), kemudian dikempa menjadi papan serat. Rendemen pulp berkisar antara 65-80% (berdasarkan bobot). Hasil papan serat berbahan baku kayu karet mempunyai sifat keteguhan lentur dan tarik yang memenuhi standar Inggris, tetapi sifat penyerapan air dan pengembangan tebalnya belum memenuhi standar. Kekurangan ini dapat disempurnakan dengan menambahkan ramuan kayu jenis yang lain.

Bahan untuk arang.

Kayu karetpun bisa digunakan untuk arang. Kualitas jenis kayu untuk arang berhubungan dengan nilai bakarnya. Nilai bakar berhubungan pula dengan berat jenis kayu. Kayu dengan berat jenis 0.60-0.75 termasuk ke dalam kelas III atau baik. Semakin tinggi berat jenis kayu, semakin keras arang yang dihasilkan, dan semakin tinggi pula rendemen arang dihasilkan. Konsekuensinya, makin tinggi kadar karbon yang terikat, dan makin rendah zat menguap. Diperkirakan, rendemen kayu karet sekitar 31%, kadar karbon terikat 79 %, dan kadar zat menguap 19%. Sedangkan persyaratan arang kayu komersial adalah kadar karbon terikat 74-81%, dan kadar zat menguap 18–22%. Jelas, arang kayu karet termasuk ke dalam arang kayu komersial dan sesuai untuk diolah menjadi arang aktif. Arang kayu karet bahkan cocok digunakan sebagai arang metalurgi untuk peleburan bijih besi. Persyaratan arang metalurgi menurut FAO adalah kadar karbon terikat 60–80%, kadar zat menguap 15-26%, dan kadar abu 3-10%. Pengujian skala laboratorium menunjukkan bahwa arang aktif dari kayu karet dapat diolah dengan hasil yang lebih baik bila menggunakan aktivator. Arang aktif terutama berfungsi sebagai pemurni dalam industri bahan makanan, bahan kimia, dan farmasi.

“Saat ini yang perlu dibenahi adalah infrastruktur. Potensi kayu karet ada di kebun rakyat, tetapi lokasi kebun karet rakyat umumnya sulit dijangkau. Kalau bahan baku banyak namun sulit dijangkau, ya sama saja….,” ujar Nancy.

Diterbitkan di Majalah Hevea Edisi 4, Pusat Penelitian Karet Indonesia

Papan Semen-Gypsum Dari Core-Kenaf (Hibiscus cannabinus L.) Menggunakan Teknologi Pengerasan Autoclave

Tanaman Kenaf (Hibiscus cannabinus L.) telah lama digunakan sebagai bahan baku pembuat karung goni dan kertas. Dengan Kegiatan penelitian, pengembangan, dan/atau perekayasaan yang bertujuan mengembangkan penerapan praktis nilai dan konteks ilmu pengetahuan yang baru, atau cara baru untuk menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada ke dalam produk atau proses produksi.


', CAPTION, 'inovasi',BELOW,RIGHT, WIDTH, 300, FGCOLOR, '#CCCCFF', BGCOLOR, '#333399', TEXTCOLOR, '#000000', CAPCOLOR, '#FFFFFF', OFFSETX, 10, OFFSETY, 10);" onmouseout="return nd();"> inovasi
teknologi, serat Kenaf dapat dikembangkan sebagai bahan baku pembuat papan semen-gypsum yang banyak digunakan sebagai material bahan bangunan.

Papan semen-gypsum dihasilkan dari core-kenaf dengan mensubtitusi penggunaan semen dengan gypsum dan proses pengerasannya menggunakan teknologi autoclave.

Dengan pengerasan autoclave, papan semen-gypsum dapat mencapai kekerasan dan kekuatan optimum dalam waktu maksimum 24 jam dari yang biasanya membutuhkan waktu selama satu bulan. Hasilnya adalah papan yang lebih ringan namun lebih kuat dan tahan rayap.

WHY?

  • Sifat fisis dan mekanis lebih baik, terutama sifat mekanis dengan nilai keteguhan rekat, keteguhan lentur, keteguhan patah lebih baik
  • Kekuatan pegang sekrup lebih tinggi dibanding papan semen-gypsum biasa
  • Ketahanan terhadap rayap kayu kering dan rayap tanah