Selasa, 27 September 2011

Bánh chưng

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Bánh chưng sebelum direbus
Bánh chưng adalah makanan Vietnam dari beras ketan yang merupakan hidangan khas tahun baru Tết. Bentuknya persegi, dan pembungkusnya adalah daun pohon yang disebut dong. Isinya melambangkan kemakmuran pedesaan di Vietnam (daging babi), dan warna kuning kerajaan (kacang hijau yang sudah dikupas dan dilumatkan). Ketika dibuka, daun pembungkus membuat permukaan beras ketan berwarna hijau yang merupakan lambang panen beras yang melimpah.[1]
Beras ketan diletakkan di atas beberapa lembar daun yang disusun sebagai pembungkus. Di tengah-tengah daun diletakkan beras ketan. Sebelum dibungkus, di atas beras ketan ditambahkan kacang hijau yang sudah dilumatkan, daging babi, bumbu, dan sedikit beras ketan lagi di atasnya. Bungkusan dibentuk persegi, dan diikat erat dengan tali hingga padat sebelum direbus sekitar 8 jam hingga matang. Bánh chưng dipotong-potong lebih dulu sebelum dimakan bersama asinan sayuran ("dưa món") atau kecap ikan. Menurut tradisi Vietnam, setiap rumah meletakkan sepasang bánh chưng di altar keluarga.

[sunting] Asal-usul

Isi bánh chưng
Menurut cerita rakyat Vietnam, Raja Hung Vuong VI memerintah negeri ketika orang masih berpendapat bentuk langit adalah bundar, dan bentuk bumi adalah persegi. Raja menugaskan putra-putranya yang berjumlah 22 orang untuk mencari makanan yang terenak. Pangeran yang membawa makanan terenak akan diangkat sebagai raja. Dua puluh satu pangeran berangkat ke seluruh penjuru negeri untuk mencari makanan terenak, namun pangeran ke-16 bernama Lang Lieu hanya tinggal di dalam istana. Ia pandai berburu dan menulis puisi, namun tidak berangkat karena ibu susu yang membesarkannya sedang sakit. Pada suatu malam, Lang Lieu mendapat petunjuk dalam mimpi bahwa nasi adalah makanan yang paling enak. Setelah mencoba-coba, ia menciptakan makanan baru dari beras dibungkus daun dengan bentuk persegi empat dan bundar. Ketika musim semi tiba, raja mengumpulkan 22 orang putranya. Semua makanan yang dibawa pangeran dicoba oleh raja. Dibandingkan makanan yang dibawa 21 pangeran lain, makanan yang dibuat Lang Lieu ternyata paling enak. Lang Lieu menjelaskan bahwa makanan yang dibuatnya melambangkan langit (bulat) dan bumi (persegi). Raja senang sekali dengan penjelasan Lang Lieu. Makanan yang dibuat Lang Lieu dinamakannya sebagai bánh chưng (makanan dengan bungkusan berbentuk persegi) dan bánh dầy (makanan dengan bungkusan berbentuk bundar).

Madumongso

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Madumongso
Madu Mongso.JPG
Madumongso
Informasi
Asal Indonesia
Daerah Jawa
Madumongso adalah makanan ringan yang terbuat dari ketan hitam sebagai bahan dasarnya. Rasanya asam bercampur manis karena ketan hitam sebelumnya diolah dahulu menjadi tape (melalui proses fermentasi). Setelah jadi kemudian diolah lagi dengan menambahkan gula, santan dan beberapa buah nanas sebelum kemudian dimasak hingga menjadi seperti dodol/jenang. Madumongso biasanya dibungkus kertas minyak yang berwarna-warni

Dawet Ireng

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Dawet Ireng
Dawet Ireng adalah sejenis dawet / cendol. Minuman ini asli dari daerah Butuh, Purworejo, Jawa Tengah. Kata ireng dari Bahasa Jawa yang artinya hitam. Butiran dari dawet berwarna hitam, warna hitam dawet diperoleh dari abu bakar jerami, abu bakar jerami kemudian dicampur dengan air sehingga menghasilkan air berwarna hitam, air inilah yang digunakan sebagai pewarna dawet.
Dawet ini memiliki keunikan yaitu penyajian dawet yang biasanya jumlah dawetnya jauh lebih banyak dibanding airnya (santan ditambah air gula). Hal unik lainya, biasanya santan diperas langsung dari bungkusan serabut kelapa.

[sunting] Bahan

Tidak terlalu berbeda dengan dawet / cendol warna hijau, bahan adalah dari tepung sagu.[1] Perbedaan pada pewarnaan hitam yang diperolah dari jerami/batang padi (Jawa: merang) yang dibakar.
Untuk kuah sama dengan dawet / cendol yaitu dari santan kelapa dengan pemanis gula jawa dan penyedap daun pandan.

Masakan Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Contoh hidangan Indonesia khas Sunda; ikan bakar, nasi timbel (nasi dibungkus daun pisang), ayam goreng, sambal, tempe dan tahu goreng, dan sayur asem; semangkuk air dengan jeruk nipis adalah kobokan.
Rendang daging domba
Indonesia adalah asal mula sate; salah satu makanan paling populer di negara ini, ada banyak variasi di seluruh Indonesia.
Nasi dengan lauk-pauknya
Masakan Indonesia merupakan pencerminan beragam budaya dan tradisi berasal dari kepulauan Nusantara yang terdiri dari sekitar 6.000 pulau dan memegang tempat penting dalam budaya nasional Indonesia secara umum dan hampir seluruh masakan Indonesia kaya dengan bumbu berasal dari rempah-rempah seperti kemiri, cabai, temu kunci, lengkuas, jahe, kencur, kunyit, kelapa dan gula aren dengan diikuti penggunaan teknik-teknik memasak menurut bahan dan tradisi-adat yang terdapat pula pengaruh melalui perdagangan yang berasal seperti dari India, Tiongkok, Timur Tengah, dan Eropa.
Pada dasarnya tidak ada satu bentuk tunggal "masakan Indonesia", tetapi lebih kepada, keanekaragaman masakan regional yang dipengaruhi secara lokal oleh Kebudayaan Indonesia serta pengaruh asing. Sebagai contoh, beras yang diolah menjadi nasi putih, ketupat atau lontong (beras yang dikukus) sebagai makanan pokok bagi mayoritas penduduk Indonesia namum untuk bagian timur lebih umum dipergunakan juga jagung, sagu, singkong, dan ubi jalar dan Sagu. Bentuk lanskap penyajiannya umumnya disajikan di sebagian besar makanan Indonesia berupa makanan pokok dengan lauk-pauk berupa daging, ikan atau sayur disisi piring.
Sepanjang sejarahnya, Indonesia telah terlibat dalam perdagangan dunia berkat lokasi dan sumber daya alamnya. Teknik memasak dan bahan makanan asli Indonesia berkembang dan kemudian dipengaruhi oleh seni kuliner India, Timur Tengah, China, dan akhirnya Eropa. Para pedagang Spanyol dan Portugis membawa berbagai bahan makanan dari benua Amerika jauh sebelum Belanda berhasil menguasai Indonesia. Pulau Maluku yang termahsyur sebagai "Kepulauan Rempah-rempah", juga menyumbangkan tanaman rempah asli Indonesia kepada seni kuliner dunia. Seni kuliner kawasan bagian timur Indonesia mirip dengan seni memasak Polinesia dan Melanesia.
Masakan Sumatera, sebagai contoh, seringkali menampilkan pengaruh Timur Tengah dan India, seperti penggunaan bumbu kari pada hidangan daging dan sayurannya, sementara masakan Jawa berkembang dari teknik memasak asli nusantara. Unsur budaya masakan China dapat dicermati pada beberapa masakan Indonesia. Masakan seperti bakmi, bakso, dan lumpia telah terserap dalam seni masakan Indonesia.
Beberapa jenis hidangan asli Indonesia juga kini dapat ditemukan di beberapa negara Asia. Masakan Indonesia populer seperti sate, rendang, dan sambal juga digemari di Malaysia dan Singapura. Bahan makanan berbahan dasar dari kedelai seperti variasi tahu dan tempe, juga sangat populer. Tempe dianggap sebagai penemuan asli Jawa, adaptasi lokal dari fermentasi kedelai. Jenis lainnya dari makanan fermentasi kedelai adalah oncom, mirip dengan tempe tapi menggunakan jenis jamur yang berbeda, oncom sangat populer di Jawa Barat.
Makanan Indonesia umumnya dimakan dengan menggunakan kombinasi alat makan sendok pada tangan kanan dan garpu pada tangan kiri, meskipun demikian di berbagai tempat (seperti Jawa Barat dan Sumatra Barat) juga lazim didapati makan langsung dengan tangan telanjang. Di restoran atau rumah tangga tertentu lazim menggunakan tangan untuk makan, seperti restoran seafood, restoran tradisional Sunda dan Padang, atau warung tenda Pecel Lele dan Ayam Goreng khas Jawa Timur. Tempat seperti ini biasanya juga menyajikan kobokan, semangkuk air kran dengan irisan jeruk nipis agar memberikan aroma segar. Semangkuk air ini janganlah diminum; hanya digunakan untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah makan dengan menggunakan tangan telanjang. Menggunakan sumpit untuk makan lazim ditemui di restoran yang menyajikan masakan China yang telah teradaptasi kedalam masakan Indonesia seperti bakmie atau mie ayam dengan pangsit, mie goreng, dan kwetiau goreng (mi pipih goreng, mirip char kway teow).

Serabi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kue serabi tanpa kuah
Kue serabi dengan kuah gula manis
Serabi kadang disebut srabi atau surabi merupakan salah satu makanan ringan atau jajanan pasar yang berasal dari Indonesia. Serabi serupa dengan pancake (pannekoek atau pannenkoek) namun terbuat dari tepung beras (bukan tepung terigu) dan diberi kuah cair yang manis (biasanya dari gula kelapa). Kuah ini bervariasi menurut daerah di Indonesia. Daerah yang terkenal dengan kue serabinya adalah Jakarta, Bandung, Solo, Pekalongan dan Purwokerto yang masing-masing memiliki keunikan tersendiri. [1][2]Ada juga surabi Arab yang terkenal karena keunikannya yang terdapat di kota bogor[3].

[sunting] Cara pembuatan

Bahan utama pembuatan kue serabi adalah tepung beras atau terigu dan santan. Secara umum kue serabi berasa manis dengan aroma manis gula merah yang khas.[4]

Onde-onde

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Onde-onde
Onde-onde dengan isi kacang hijau
Onde-onde adalah sejenis kue jajanan pasar yang populer di Indonesia. Kue ini sangat terkenal di daerah Mojokerto yang disebut sebagai kota onde-onde sejak zaman Majapahit. Onde-onde dapat ditemukan di pasar tradisional maupun dijual di pedagang kaki lima. Onde-onde juga populer khususnya di daerah pecinan baik di Indonesia maupun luar negeri.
Onde-onde terbuat dari tepung terigu ataupun tepung ketan yang digoreng atau direbus dan permukaannya ditaburi/dibalur dengan biji wijen. Terdapat bermacam-macam variasi, yang paling dikenal adalah onde-onde yang terbuat dari tepung ketan dan di dalamnya diisi pasta kacang hijau. Variasi lain hanya dibuat dari tepung terigu dan diberi warna pada permukaannya seperti putih, merah, atau hijau yang dikenal sebagai onde-onde gandum, yang merupakan onde-onde khas dari kota Mojokerto.

Canting

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Canting tradisional Indonesia
Canting (dari bahasa Jawa, canthing, IPA:tʃanʈiŋ) adalah alat yang dipakai untuk memindahkan atau mengambil cairan yang khas digunakan untuk membuat batik tulis, kerajinan khas Indonesia. Canting tradisional untuk membatik adalah alat kecil yang terbuat dari tembaga dan bambu sebagai pegangannya.

[sunting] Kegunaan

Canting dipakai untuk menuliskan pola batik dengan cairan malam. Canting pada umumnya terbuat dari bahan tembaga dengan gagang bambu, namun saat ini canting untuk membatik mulai digantikan dengan teflon.

[sunting] Desain

Sebuah canting terdiri dari:
  1. Nyamplung: tempat tampungan cairan malam, terbuat dari tembaga.
  2. Cucuk: tergabung dengan nyamplung, adalah tempat keluarnya cairan malam panas saat menulis batik.
  3. Gagang: pegangan canting, umumnya terbuat dari bambu atau kayu.
Ukuran canting dapat bermacam-macam sesuai besar kecilnya lukisan batik yang akan dibuat. Saat digunakan, pengrajin memegang canting seperti menggunakan pena, mengisi nyamplung dengan malam cair dari wajan tempat memanaskan malam tersebut. Pengrajin kemudian meniup cairan malam panas dalam nyamplung untuk menurunkan suhunya sedikit, kemudian melukiskan malam yang keluar dari cucuk tersebut di atas gambar motif batik yang sebelumnya telah dilukis dengan pensil.[1]