Kamis, 14 November 2013

BAMBU KOMPOSIT SEBAGAI PAPAN SERAT UNTUK BAHAN BANGUNAN ALTERNATIF PENGGANTI KAYU

1. Pendahuluan

Latar Belakang
 Saat ini kayu yang berkualitas semakin sulit diperoleh di pasaran, sehingga perlu dicari bahan lain sebagai penggantinya. Bambu cepat tumbuh adalah salah satu jenis yang dapat digunakan, karena selain mempunyai masa panen hanya 3 sampai 5 tahun, potensinya pun cukup besar di beberapa daerah dan bersifat renewable serta sangat sesuai dengan kebutuhan industri. Beberapa aspek sifat bambu lebih baik daripada kayu, tetapi bambu memiliki kekurangan untuk digunakan sebagai bahan konstruksi secara langsung. Kemajuan teknologi saat ini memungkinkan untuk dapat mengolah bahan bambu menjadi balok mirip kayu dengan kekuatan yang tinggi. Pengembangan pembuatan balok bambu dilakukan dengan bantuan pelatihan produksi, sehingga dapat dibuat unit produksi dan dapat dilakukan dengan skala UKM.
Hasil penelitian Balai Bahan Bangunan – Puslitbang Permukiman pada tahun anggaran 2007 menunjukkan bahwa, dengan menggunakan perekat resin (cara pres panas atau dingin) atau semen, dapat dihasilkan suatu suatu bahan bangunan komposit yang mempunyai kekuatan tinggi sehingga dapat menandingi kekuatan kayu. Produk dari hasil penelitian ini dapat berupa panel eksterior dan interior dengan berbagai bentuk untuk konstruksi bangunan seperti, dinding, langit-langit serta penutup atap, atau yang digunakan sebagai bahan furniture dengan memenuhi persyaratan yang diperlukan.
Manfaat
1. Menyediakan bahan bangunan alternatif dan memberdayakan masyarakat melalui pengembangan UKM.
2. Menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat dan mendukung program pembangunan perumahan yang berkelanjutan di Indonesia.
 Keunggulan
1. Dimensi dapat disesuaikan dengan kebutuhan
2. Dimungkinkan dibuat tanpa adanya sambungan
3. Sifat Mekanika tinggi
4. Pengerjaan setara dengan bahan kayu
Jenis Bambu Olahan
Parallam
Subiyanto et al. (1994), menyatakan bahwa papan bambu lapis semi serat dibuat dengan cara memipihkan bambu dengan mesin pemipih sampai bentuk bambu berupa semi serat yang panjang. Kemudian arah serat disusun saling menyilang. Parallam bambu yang dibuat sama dengan papan bambu lapis semi serat, tapi arah seratnya susunannya sejajar.
Bambu Lapis
Kayu lapis adalah suatu produk yang diperoleh dengan cara menyusun bersilangan tegak lurus lembaran venir yang diikat dengan perekat,minimal tiga lapis ( SNI,2000). Pemasangan venir dengan arah saling tegak lurus dimaksudkan untuk mendapatkan kekuatan mekanis yang lebih tinggi. Penyusutan lebih kecil sehingga menjadikan produk tersebut memiliki stabilitas dimensi yang tinggi.
 
2. Uraian dan Penjelasan Bambu
2.1 Bambu
         Tanaman bambu termasuk ke dalam famili Gramineae, sub famili Bambusoideae, ordo Graminales dan kelas Monokotil (Qisheng et al. 1999). Di dunia diketahui ada 1250 jenis bambu yang berasal dari 75 marga (Sharma 1980) sedangkan menurut Widjaja (2001) di Indonesia tumbuh berbagai macam bambu yang tersebar di seluruh daerah, ada sekitar 143 jenis bambu yang telah diketahui sifat dan jenisnya. Jumlah tersebut berasal dari 9 marga yaitu Arundinaria, Bambusa, Dendrocalamus, Gigantochloa, Melocanna, Nastus, Phyllostachys, Schizostachyum dan Thysostachys (Sastradipraja et al. 1977; Widjaya 1980). Diantara hutan bambu di dunia, benua asia mempunyai area yang terluas, luas hutan bambu di Asia Tenggara lebih dari 10 juta ha. Beberapa spesies bambu dapat tumbuh pada daerah dengan suhu antara 40ºC sampai 50ºC, di beberapa tempat dapat bertahan pada daerah bersalju atau memiliki temperatur yang membekukan. Di beberapa negara bambu memiliki peranan yang penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat tropis. Di dunia bambu didistribusikan di 3 daerah yaitu Asia dan Lautan Pasifik, Amerika dan Afrika. Daerah Asia Tenggara merupakan pusat keaslian dan distribusi bambu di dunia (ITTO 1994). Tanaman bambu mempunyai daerah penyebaran yang cukup luas baik penyebaran vertikal maupun horizontal. Dengan demikian hampir semua jenis bambu dapat tumbuh pada berbagai tempat di Indonesia. Perkembangbiakan bambu digunakan untuk kegiatan afforestasi dan reforestasi oleh petani. Perkembangbiakan generatif dilakukan dengan biji. Perkembangbiakan vegetatif dilakukan dengan melakukan pemotongan pada bagian batang, cabang atau akar rimpang (Brandis 1900 dalam Liese 1987). Teknik pembibitan dilakukan dengan biji, stek batang, stek cabang dan rhizom.
         2.2 Morfologi
         2.2.1 Akar Rimpang
         Akar Rimpang terdapat di bawah tanah dan membentuk sistem percabangan yang dapat dipakai untuk membedakan kelompok bambu. Ada dua macam sistem percabangan akar rimpang yaitu pakimorf (dicirikan oleh akar rimpangnya yang simpodial), leptomorf (dicirikan oleh akar rimpangnya yang monopodial). Di Indonesia jenis-jenis bambu asli umumnya mempunyai sistem perakaran pakimorf, yang dicirikan oleh ruasnya yang pendek dengan leher yang pendek juga. Setiap akar rimpang mempunyai kuncup yang akan berkembang dan tumbuh menjadi akar rimpang baru yang akhirnya bagian yang tumbuh ke atas membentuk rebung dan kemudian menjadi buluh. Akar pakimorf bentuknya bervariasi, misalnya pada marga Dinoclhoa, Meloccana memiliki akar rimpang yang lehernya panjang tetapi ruasnya pendek dan tanpa kuncup, sehingga buluh tampak agak berjauhan dan tidak menggerombol (Widjaja 2001).

         2.2.2 Rebung
         Rebung merupakan bambu muda yang muncul dari permukaan dasar rumpun atau rizhom. Pada awalnya berbentuk tunas yang pertumbuhannya lambat dan dalam perkembangannya berbentuk kerucut yang merupakan bentuk permulaan dari perkembangan batang. Rebung muncul pada musim hujan yang laju pertumbuhannya sangat tergantung dari jenis bambunya (Forda 1996).Rebung tumbuh dari kuncup akar rimpang di dalam tanah atau dari pangkal buluh tua. Bulu pelepah rebung umumnya hitam tapi ada juga yang coklat atau putih dan beberapa bulu dapat menyebabkan kulit menjadi sangat gatal sedangkan yang lain tidak. Rebung selalu ditutupi oleh pelepah buluh yang juga tumbuh memanjang mengikuti perpanjangan ruasnya (Widjaja 2001).
         2.2.3 Buluh
         Buluh berkembang dari rebung, tumbuh sangat cepat dan mencapai tinggi maksimum dalam beberapa minggu. Buluh terdiri atas ruas dan buku-buku. Beberapa jenis mempunyai ruas panjang, sperti Schizostachyum irate, S.sillicatum dan yang lain memiliki ruas pendek misalnya Bambusa vulgaris, B.blumeana, Melocanna baccifera, Phyllostachys aurea dan P. Nigra. Selainberbeda dalam panjang buluhnya beberapa jenis tertentu mempunyai diameter buluh yang berbeda. Jenis Dendrocalamus mempunyai diameter buluh tebesar diikuti oleh jenis-jenis dari marga Gigantochloa dan Bambusa. Setiap bambu memiliki panjang buku yang berbeda (Widjaja 2001). Buluh memiliki pelepah yang merupakan hasil modifikasi daun yang menempel pada setiap ruas. Pelepah buluh sangat penting fungsinya yaitu  menutupi buluh ketika muda. Saat buluh tumbuh dewasa dan tinggi pada beberapa jenis bambu pelepahnya luruh tetapi jenis lain pelepahnya tetap menempel (Widjaja 2001). Bambu adalah salah satu jenis tumbuhan yang cepat tumbuh dan dapat mencapai ketinggian maksimum 15 sampai 30 meter dalam waktu 2 sampai 4 bulan dengan rata-rata pertumbuhan harian sekitar 20 cm sampai dengan 100 cm dan diameter 5-15 cm (Ueda 1960 dalam Liese 1987).
         2.2.4 Percabangan
         Percabangan pada umumnya terdapat di atas buku-buku. Cabang dapat digunakan sebagai ciri penting untuk membedakan marga bambu. Pada marga Bambusa, Dendrocalamus dan Gigantochloa sistem percabangan memiliki satu cabang yang lebih besar daripada cabang lainnya yang lebih kecil. Cabang lateral bambu yang tumbuh pada batang utama, biasanya berkembang ketika buluh mencapai tinggi maksimum. Pada beberapa marga, cabang muncul tepat di atas tanah misalnya pada Bambusa dan menjadi rumpun pada sekitar dasar rumpun dengan duri atau tanpa duri (Widjaja 2001). Batang bambu terdiri atas 3 bagian yaitu kulit, kayu dan bagian empulur. Kulit bambu adalah bagian terluar dari penampang lintang dinding batang, empulur adalah bagian batang yang berdekatan dengan rongga bambu yang tidak mengandung ikatan vaskular. Bagian kayu pada bambu adalah bagian diantara kulit dan empulur (Qisheng 2001).

         2.3 Ikatan Pembuluh
         Struktur anatomi penampang melintang ruas batang bambu ditentukanoleh ikatan pembuluh baik dalam bentuk, ukuran susunan maupun jumlah (Lwinet al. 1007; Liese 1980). Tampilan ikatan pembuluh melintasi batang berubah secara kontinyu dari bagian pinggir ke bagian pusat. Mendekati bagian pinggir, ikatan pembuluh menjadi semakin kecil dan banyak dengan hanya sedikit parenkim. Ikatan pembuluh berada di bawah kortek berbentuk bulat dalam irisan transversal. Ke arah tengah dinding batang ikatan pembuluh menjadi lebih besar dan lebih luas ruangannya sedangkan di dalam kebanyakan spesies ikatan pembuluh menunjukan ukuran maksimum dan bentuk yang karakteristik pada Bagian pusat. Di bagian dalam ikatan pembuluh kembali menjadi lebih kecil. Di daerah pinggir batang, ikatan pembuluh kecil dan berjumlah banyak dan bagian dalam lebih besar dan lebih sedikit. Dalam batang, jumlah total ikatan pembuluh menurun dari pangkal ke bagian ujung (Liese 1980).
         Gambar 1 Tipe ikatan pembuluh pada bambu, a = Tipe I, b = Tipe II, c = Tipe III dan d = Tipe IV, sumber : Liese dan Groser (1973) Menurut Liese dan Groser (1973), pada umumnya jenis bambu mempunyai ikatan serabut (fibre bundle) yang terpisah pada sisi dalam atau sisi luar ikatan vascular pusat. Ada empat tipe ikatan pembuluh, yaitu :
         a. Tipe I, ikatan pembuluh terdiri atas satu bagian yaitu ikatan pembuluh pusat (central vascular strand) yang hanya didukung oleh jaringan selubung sklerenkim dan ruang interseluler.
         b. Tipe II, ikatan pembuluh terdiri atas satu bagian yaitu ikatan pembuluh pusat yang hanya didukung oleh jaringan seperti selubung sklerenkim dan selubung ruang interseluler yang lebih besar dari ketiga tipe lainnya.
         c. Tipe III, ikatan pembuluh terdiri atas dua bagian yaitu ikatan pembuluh pusat dan satu ikatan serabut. Ikatan serabut terletak di sebelah dalam ikatan vaskuler pusat. Selubung ruang interseluler umumnya lebih kecil dari yang lain.
         d. Tipe IV, ikatan pembuluh terdiri atas tiga bagian yaitu ikatan pembuluh pusat dan dua ikatan serabut yang terletak di sebelah dalam dan luar dari ikatan vaskular pusat.

2.5 Sifat Kimia Bambu
Sifat kimia bambu bervariasi berdasar spesies, kondisi pertumbuhan, umur dan bagian batang bambu dan faktor-faktor eksternal topografi dan efek musim (Othman et al. 1995; Lwin et al. 2007). Komposisi bahan berkayu mendekati 50% karbon, 6% hidrogen dan 44% oksigen dengan rata-rata kadar abu 0.2-0.3% dan nilai nitrogen 0.1% atau kurang (Bodig dan Jayne 1993). Pada
bambu, komponen utama kimianya adalah selulosa, hemiselulosa dan lignin sedangkan komponen minor adalah tanin, lilin, dan garam anorganik (Othman etal. 1995).
Menurut Higuchi (1985) dalam Lwin et al. (2007), komposisi kimia bambu secara umum sama dengan kayu daun lebar kecuali ekstrak alkalin, abu dan kadar silika yang tinggi. Banyak hubungan diantara komposisi kimia dan penggunaannya. Bambu terdiri atas sekitar 50-70% holoselulosa, 30% pentosan dan 20-25% lignin. Kadar silika 0.5-5% dan mempengaruhi pemotongan dan
kualitas pulping. Kadar silika yang tinggi terdapat pada epidermis (Liese 1992)
2.6 Komponen Kimia Struktural Kayu
Komponen kimia kayu dapat dibedakan menjadi komponen-komponen makromolekul utama dinding sel selulosa, poliosa (hemiselulosa) dan lignin yang terdapat pada semua kayu dan komponen minor (zat ekstraktif dan zat-zat mineral) (Fengel dan Weegener 1995). Selulosa membentuk komponen serat dari dinding sel tumbuhan. Molekul selulosa merupakan rantai-rantai atau mikrofibril dari D-glukosa sampai sebanyak 14.000 satuan yang terdapat sebagai berkas-berkas berpuntir mirip tali yang terikat satu sama lain oleh ikatan hidrogen (Fessenden 1982). Selulosa merupakan struktur dasar sel tanaman sehingga merupakan bahan alam yang paling penting dibuat oleh organisme hidup. Selulosa merupakan polimer linear dengan berat molekul tinggi yang tersusun seluruhnya oleh β-D-Glukosa. Selulosa terdapat pada semua tanaman dari pohon bertingkat tinggi sehingga organisme primitif seperti rumput laut, flagelata dan bakteria. (Wardrop 1970 dalam Fengel dan Weegener 1995).
Menurut Cross dan Bevan (1912) alfa selulosa adalah istilah untuk selulosa kayu yang tidak larut dalam natrium hidroksida kuat. Menurut Casey (1980) kertas yang memiliki kadar alfa selulosa yang tinggi atau viskositas yang tinggi pada umumnya mengandung serat berkualitas tinggi dan memiliki derajat stabilitas yang tinggi. Di samping selulosa dalam kayu maupun dalam jaringan tanaman yang lain terdapat sejumlah polisakarida yang disebut poliosa atau hemiselulosa. Menurut Bauer (1970) dalam Weegener (1995) hemiselulosa adalah selulosa berantai pendek atau berbobot molekul rendah. Hemiselulosa disusun oleh berbagai unit gula atau anhidro yang membentuk poliosa dan dapat dibagi menjadi kelompok seperti pentosa, heksosa, asam heksuronat dan deoksi heksosa. Rantai utama poliosa dapat terdiri hanya satu unit seperti xilan, atau terdiri dari dua unit atau lebih.Lignin bukan karbohidrat, tetapi lebih bersifat aromatis (Tsoumis 1991). Lignin merupakan polimer dari unit-unit fenil propana. Lignin dapat dibagi menjadi beberapa kelas menurut unsur-unsur strukturnya. Yang disebut lignin guaiasil yang terdapat di hampir semua kayu daun jarum sebagian besar merupakan produk polimerisasi dari konifer alkohol. Lignin guaiasil-siringil, khas kayu daun lebar adalah koopolimer dari koniferil dan sinapil alkohol dengan nisbah bervariasi.

         Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk Indonesia, kebutuhan terhadap kayu sebagai bahan bangunan juga meningkat. Walaupun luas kawasan hutan berdasarkan TGHK sebesar 124.7 juta hektar yang terdiri atas kawasan hutan tetap seluas 110.8 juta hektar dan kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi seluas 13.9 juta hektar (Dephut, 2004), pada kenyataannya ketersediaan kayu di hutan alam semakin terbatas akibat dari eksploitasi yang berlebihan yang melebihi daya dukungnya dan cenderung menimbulkan kerusakan hutan.
         Ditambah lagi, dewasa ini luas hutan di Indonesia terus mengalami penyusutan. Untuk mengatasi ketidakmampuan hutan dalam memenuhi kebutuhan kayu yang terus meningkat, perlu dilakukan tindakan-tindakan antisipasi dengan mencari bahan baku selain kayu yang dapat digunakan sebagai pengganti atau penunjang kayu dari hutan alam. Salah satunya dengan memanfaatkan hasil hutan non kayu berupa bambu. Keadaan ini ditunjang oleh kenyataan bahwa Indonesia memang kaya akan jenis bambu yang berpotensi ekonomi baik secara lokal mau pun dalam skala nasional dan bahkan untuk keperluan regional dan internasional. Melihat potensi bambu di Indonesia terdapat lebih dari 143jenis bambu dan 9 jenis diantaranya merupakan bambu yang hidup endemik di Jawa (Widjaja,2001).
         Untuk mengatasi ketidakmampuan hutan dalam memenuhi kebutuhan kayu, perlu dilakukan tindakan-tindakan antisipasi dengan mencari bahan baku selain kayu yang salah satunya berupa bambu.
         Bambu juga memiliki banyak kegunaan, mulai dari bahan bangunan sampai ke produk makanan olahan. Bambu disukai sebagai bahan bangunan karena memiliki beberapa keunggulan diantaranya kuat, keras, ringan, mudah didapat, cepat tumbuh, mudah dalam pengerjaan, dan mempunyai sifat mekanis yang lebih baik pada arah sejajar serat. Melihat keunggulan-keunggulan tersebut memungkinkan berkembangnya produk-produk panel bambu sebagai wujud upaya diversifikasi produk panel kayu.
         Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komposisi tebal lapisan dan pengaruh perekat terhadap sifat fisis dan mekanis panel bambu lapis dan kemungkinan pemanfaatan bambu andong sebagai bahan baku pembuatan bambu lapis struktural.
         Analisis sifat fisis dan mekanis bambu dilakukan dengan menggunakan rancangan faktorial acak lengkap untuk melihat sejauh mana perekat dan komposisi tebal bambu mempengaruhi sifat sifat bambu.

         2.7 Komponen Kimia Non Struktural
         Komponen kimia non struktural kayu mengandung zat-zat dengan bobot molekul rendah. Meskipun komponen tersebut hanya memberikan saham beberapa persen pada masa kayu, mereka dapat memberikan pengaruh yang besar pada sifat dan kualitas pengolahan kayu. Beberapa komponen seperti ionion logam tertentu sangat penting bagi kehidupan pohon (Fengel dan Weegener 1995). Klasifikasi yang dapat dibuat adalah zat organik dan anorganik. Bahan organik lazim disebut zat ekstraktif. Sebagian bahan anorganik secara ringkas disebut abu. Zat-zat tersebut dapat dibedakan berdasarkan analisis kelarutan dalam air dan pelarut organik. Gugus-gugus utama senyawa kimia yang merupakan komponen kimia kayu dengan bobot molekul rendah adalah senyawa aromatik (fenolat), terpena, asam alifatik, alkohol, senyawa anorganik, monosakarida dan disakarida (Sjostrom 1995). Bagian dari kayu yang beranekaragam, meskipun biasanya berupakan bagian kecil, larut dalam pelarut-pelarut organik netral atau air. Ekstraktif terdiri atas jumlah yang sangat besar dari senyawa-senyawa tunggal tipe lipofil maupun hidrofil. Ekstraktif dapat dapat dipandang sebagai konstituen kayu yang tidak struktural, hampir seluruhnya terbentuk dari senyawa-senyawa ekstra seluler dan berat molekul rendah. Tipe konstituen yang mirip terdapat dalam yang disebut eksudat, yang dibentuk oleh pohon melalui proses metabolisme skunder setelah kerusakan mekanik atau penyerangan oleh serangga atau jamur (Sjostrom 1995).
         Kadar dan komposisi ekstraktif berbeda diantara spesies kayu berdasarkan letak geografi dan musim. Pada sisi lain komposisi ekstraktif dapat digunakan untuk determinasi kayu-kayu tertentu yang sukar dibedakan secara anatomi. Ekstraktif terkonsentrasi dalam saluran resin dan sel-sel parenkim jarijari: jumlah yang rendah juga terdapat dalam lamela tengah, interseluler dan dinding sel trakeid dan serabut libiform. Ekstraktif juga dapat mempengaruhi kekuatan pulp, perekatan dan pengerjaan kayu akhir maupun sifat-sifat pengeringan (Fengel dan Weegener 1995). Kayu memiliki komponen anorganik yang rendah. Komponen utama abu adalah kalium, kalsium, dan magnesium maupun silika.
         Kayu mengandung komponen-komponen anorganik yang berwujud abu yang jarang melebihi 1% dari berat kayu kering. Abu ini berasal dari berbagaigaram yang diendapkan dalam dinding sel dan lumen. Endapan yang khas adalah berbagai karbonat, silikat, oksalat dan fospat. Komponen logam yang paling banyak jumlahnya adalah kalsium yang diikuti kalium dan magnesium (Sjostrom 1995). Logam-logam terikat secara parsial dengan gugus-guguskarboksil yang terdapat dalam xilan dan pektin atau seperti logam-logam berat misalnya besi dan mangan. Menurut Tsoumis (1991) menyatakan bahwa beberapa zat anorganik seperti garam kalsium dan silika tidak larut terhadap bahan pelarut organik netral (alkohol, benzene, aseton, eter dan pelarutan-pelarutan dengan air) tetapi zat-zat ini ditetapkan juga sebagai zat ekstraktif karena zat-zat ini bukan merupakan komponen dari dinding sel. Atas dasar tersebut maka semua zat anorganik (abu kayu) dapat ditetapkan sebagai zat ekstraktif.
         Hasil penelitian menunjukkkan bahwa kadar air segar pada posisi pangkal,tengah dan ujung secara berturut-turut adalah 125,99%; 98,54% dan 69,26%.Kadar air kering udara pada posisi pangkal, tengah dan ujung secara berturut-turut sebesar 12,52%; 11,16% dan 109,88%. Nilai kadar air segar dan kadar air kering udara pada bagian posisi pangkal cenderung lebih besar daripada posisi tengah dan ujung. Hal ini dikarenakan pada bagian pangkal umumnya memiliki dinding serabut yang lebih tebal daripada bagian ujung sehingga kemampuan mengikat air lebih besar. Keadaan ini serupa pula dengan yang dilaporkan dalam hasil penelitian Soenardi (1988), bahwa variasi kadar air bambu dari pangkal ke bagian ujung batang memperlihatkan kecenderungan menurun. Liese (1985) juga melaporkan bahwa pada bambu umur 3 sampai 4 tahun bagian pangkalnya mempunyai kadar air yang lebih tinggi daripada bagian ujungnya Nilai berat jenis pada posisi pangkal, tengah dan ujung bambu Apus secara berurutan adalahi 0,50; 0,67 dan 0,58%. Pola variasi berat jenis menunjukkan kecenderungan meningkat dari posisi pangkal ke arah ujung batang. Hal ini dikaitkan dengan kadar air yang semakin menurun pada posisi ini. Panshin de Zeeuw (1980) meyebutkan bahwa berat jeis berhubungan dengan tebal dinding sel.
         Apabila dikaitkan dengan tebal dinding sel, maka peningkatan tebal dinding sel dari posisi pangkal ke posisi ujung batang berbanding lurus dengan peningkatan berat jenis. Menurut Oey Djoen Seng (1990), variasi berat jenis dipengaruhi oleh kecepatan tumbuh dan perbedaan letak tinggi dalam batang. Hasil penelitian untuk penyusutan tebal dari kondisi segar ke kering udara pada posisi pangkal, tengah dan ujung adalah 7,50%; 13,00% dan 14,11%. Nilai penyusutan tebal dari kondisi segar ke kering tanur secara berturut-turut sebesar 8,53%; 14,66% dan 14,91%. Dengan demikian terlihat bahwa terjadi kecenderungan peningkatan penyusutan tebal dari posisi pangkal ke posisi ujung batang baik utuk penyusutan tebal kondisi segar ke kering udara dan dari kondisi segar ke kering tanur pada jenis bambu Apus. Hal ini dikarenakan adanya kaitan dengan berat jenisnya, dimana dengan semakin tinggi berat jenisnya maka akan mempunyai penyusutan yang besar. Demikian pula sebaliknya. Karena berat jenis yang tinggi memiliki massa kayu yang besar sehingga jumlah air yang keluar daridalam kayu juga besar asalkan kandungan ekstraktif tidak menghalangi. Panshin de Zeeuw (1980) mengemukakan bahwa penyusutan bervariasi menurut letaknya dalam batang. Variasi ini berhubungan dengan kandungan ekstraktif dan berat jenis pada masing-masing bagian kayu. Hasil analisis keragaman menunjukkan bahwa posisi bagian bambu (pangkal, tengah dan ujung) berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air kering udara, penyusutan tebal dari kondisi segar ke kondisi kering udara dan penyusutan tebal dari kondisi segar ke kondisi kering tanur; sedangkan terhadap kadar air segardan berat jenis tidak berpengaruh secara nyata.

Papan Partikel
            Papan partikel ialah produk panil yang dihasilkan dengan memanpatkan partikel-partikel kayu dan sekaligus mengikatnya dengan suatu perekat. Tipe-tipe papan partikel yang banyak itu sangat berbeda dalam hal ukuran dan bentuk partikel, jumlah resin (perekat) yang digunakan, dan kerapatan panil yang dihasilkan (Haygreen, 1996).
Papan partikel adalah salah satu jenis kayu pabrikan. Papan partikel terbuat dari campuran keping kayu (wood chips) yang dicampur dengan lem resin sintetis dan dipres atau ditekan menjadi lembaran-lembaran keras dalam ketebalan tertentu. Papan partikel cenderung stabil dan tidak mudah berubah bentuknya (menyusut, membelok, dan lain lain). Papan partikel juga dapat dipotong, dibentuk, dan dibor dengan mudah menggunakan peralatan standar. Papan partikel tidak dapat digunakan untuk bagian eksterior karena ujung-ujngnya mudah menyerap embun dan mudah lembab. Meskipun demikian, beberapa produsen kini menyertakan emulsi lilin di lemnya untuk melindungi papan dari kelembaban pada tingkat tertentu. Papan partikel lebih banyak digunakan untuk peti mati, laci, panel, partisi, dan lain-lain (Haygreen, 1996).
Papan partikel dapat dibedakan berdasarkan beberapa hal seperti cara pengempaan, kerapatan, kekuatan, macam perekat, susunan partikel dan pengolahan. Dan mutu papan partikel meliputi beberapa hal seperti cacat, ukuran, sifat fisis, sifat mekanis, sifat kimia. Ketentuan mengenai mutu papan partikel tidak selalu sama pada setiap standar dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan teknologi dan penggunaan papan partikel (Arbintarso, 2008)
2.8.1. Macam dan Mutu Papan Partikel
2.8.2. Faktor yang Mempengaruhi Mutu Papan Partikel
1.      Berat Jenis Kayu
Perbandingan antara kerapatan atau berat jenis papan partikel dengan berat jenis kayu harus lebih dari satu, yaitu sekitar 1,3 agar mutu papan partikelnya baik. Pada keadaan tersebut proses pengempaan berjalan optimal sehingga kontak antar partikel baik
2. Zat Ekstraktif Kayu
 Kayu yang berminyak akan menghasilkan papan partikel yang kurang baik dibandingkan dengan papan partikel dari kayu yang tidak berminyak. Zat ekstraktif semacam itu akan mengganggu proses perekatan.
3. Jenis Kayu
 Jenis kayu (misalnya meranti kuning) yang kalau dibuat papan partikel emisi formaldehidanya lebih tinggi dari jenis lain (misalnya meranti merah). Masih diperdebatkan apakah karena pengaruh warna atau pengaruh zat ekstraktif atau pengaruh keduanya.
4. Campuran Jenis Kayu
Keteguhan lentur papan partikel dari campuran jenis kayu ada diantara keteguhan lentur papan partikel dari jenis tunggalnya, karena itu papan partikel structural lebih baik dibuat dari satu jenis kayu dari pada dari campuran jenis kayu.
5. Ukuran Partikel
Papan partikel yang dibuat dari tatal akan lebih baik daripada yang dibuat dari serbuk karena ukuran tatal lebih besar daripada serbuk. Karena itu, papan partikel structural dibuat dari partikel yang relatif panjang dan relatif besar
 6. Kulit Kayu
 Makin banyak kulit kayu dalam partikel kayu, maka sifat papan partikelnya makin kurang baik karena kulit kayu akan mengganggu  proses perekatan antar partikel. Banyaknya kulit kayu maksimum sekitar 10%
 7. Perekat
Macam perekat yang dipakai mempengaruhi sifat papan partikel. Penggunaan perekat eksterior akan menghasilkan papan partikel eksterior sedangkan pemakaian perekat interior akan menghasilkan papan partikel interior.
8. Pengolahan
  Proses produksi papan partikel berlangsung secara otomatis. Walaupun demikian, masih mungkin terjadi penyimpangan yangdapat mengurangi mutu papan partikel. Sebagai contoh, kadar air hamparan (campuran partikel dengan perekat) yang optimum adalah 10-14%, bila terlalu tinggi keteguhan lentur dan keteguhan rekat internal papan partikel akan menurun (Sutigno, 1994)

2.8.3. Sifat-sifat Papan Partikel
        1. Penyusutan dianggap tidak ada
        2. Keawetan terhadap jamur tinggi, karena adanya bahan pengawet
        3. Merupakan isolasi bahan panas yang baik
        4. Merupakan bahan akustik yang baik

 2.8.4. Penggunaan papan partikel
        1. Untuk prabot
        2. Dinding dalam rumah, dinding antara
        3. Flavon dan lantai
        4. Dan macam-macam kegunaannya dalam permebelan
2.9.5. Keuntungan papan partikel
         1. Papan partikel merupakan bahan konstruksi yang baik
         2. Bahan isolasi dan akustik yang baik
        3. Dapat menghasilkan bidang yang luas
        4. Pengerjaan mudah dan cepat
        5. Tahan api
        6. Mudah di finishing, dilapisi kertas dekor, dilapisi finir
       7. Memiliki kestabilan dimensi (Dumanauw, 1990) 


Bentuk Bambu jadi Chip Wood




Bentuk Bambu jadi serat fiber 





produk MDF papan serat dari Bambu









Aplikasi berbagai produk MDF dari Bambu








Proses produksi MDF dari Bambu


raw material bambu --------> wood chip ----------> serat fiber + lem urea formaldehida----------> MDF bambu

















































2 komentar: